Psikologi Inovasi
saat satu orang menemukan cara baru mengikat batu ke kayu
Bayangkan kita sedang duduk di tanah berdebu, ratusan ribu tahun yang lalu. Matahari bersinar terik. Perut kita keroncongan. Di tangan kita ada sebuah batu bersisi tajam. Di tangan yang lain, ada sebatang dahan kayu. Selama ini, nenek moyang kita menggenggam batu itu langsung untuk memotong daging atau menumbuk tulang. Tangan lecet, kapalan, hingga berdarah, itu sudah jadi rutinitas sehari-hari. Tapi hari ini, ada satu orang di ujung gua yang menatap batu dan kayu itu secara bergantian. Dia mengambil seutas akar pohon yang alot. Dia mulai melilitkan akar itu, mencoba menyatukan si batu dan kayu. Kretek. Akar itu putus. Dia mendengus, mencari akar lain, dan mencoba lagi. Pernahkah kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kepala orang ini? Mengapa dia tidak pasrah saja pada tradisi tangan lecet seperti anggota suku yang lain?
Kalau kita membedah sejarah evolusi, otak manusia itu sebenarnya dirancang untuk hemat energi. Secara biologis, kita memiliki kecenderungan menjadi cognitive miser, alias otak yang pelit mikir. Rutinitas adalah cara paling ampuh bagi otak untuk menghemat kalori. Menggenggam batu dengan tangan kosong, meski menyakitkan, adalah sebuah kebiasaan. Itu aman, sudah teruji, dan tidak butuh mikir. Sebaliknya, inovasi menuntut pembakaran kalori ekstra. Orang yang mencoba mengikat batu ke kayu ini harus melawan dorongan alami otaknya sendiri untuk bermalas-malasan. Belum lagi, dia harus siap menghadapi tekanan sosial. Kita bisa membayangkan teman-teman satu sukunya menatap dengan sinis. "Ngapain sih buang-buang waktu? Mending ikut berburu rusa sana!" begitu kira-kira tatapan mereka. Mengubah cara lama itu penuh gesekan psikologis. Tapi, ada dorongan lain di dalam kepala orang ini. Sebuah rasa penasaran akut yang menuntut untuk segera dituntaskan.
Mari kita mengintip lebih dalam ke isi kepala si manusia purba pemberontak ini. Dalam psikologi kreativitas, ada sebuah konsep penting bernama divergent thinking. Ini adalah kemampuan otak untuk melihat satu objek biasa, tapi mampu membayangkan berbagai kemungkinan yang tidak lazim. Bagi kebanyakan orang di masa itu, batu ya alat pukul. Kayu ya sekadar kayu bakar. Titik. Tapi bagi otak yang sedang mengalami letupan kreativitas, batu dan kayu adalah kepingan puzzle yang belum tersambung. Saat dia frustrasi mencoba berbagai simpul akar yang terus-menerus merosot, area otaknya yang bernama prefrontal cortex sedang bekerja sangat keras. Menariknya, solusi hebat jarang datang saat kita sedang stres dan terlalu fokus. Solusi itu justru sering kali muncul saat kita sedang melamun atau rebahan santai, berkat aktifnya default mode network di dalam otak kita. Pertanyaannya, ketika ikatan akar itu pada akhirnya berhasil mengunci dengan sempurna, apakah ini sekadar penemuan alat perkakas baru? Atau ada rahasia yang lebih masif, yang baru saja mengubah takdir spesies manusia selamanya?
Dan... simpul itu akhirnya mengikat dengan pas. Batu tajam tersebut kini kokoh menempel pada ujung gagang kayu. Dia baru saja menciptakan kapak bersumbu yang pertama. Ayunan percobaan pertamanya menghancurkan sebuah tulang hewan purba dalam sekejap. Tenaga yang dia keluarkan jauh lebih kecil, namun daya hancurnya berlipat ganda. Tapi teman-teman, kejutan utamanya bukan pada kapak itu sendiri. Saat orang ini berhasil mengikat batu ke kayu, dia tidak sekadar merakit alat. Dia baru saja melahirkan apa yang disebut oleh para ilmuwan kognitif sebagai extended mind, atau perluasan pikiran. Dia membuktikan bahwa batasan fisik tubuh kita bisa diakali dengan memanipulasi benda di luar diri kita. Pikiran manusia tidak lagi terkurung di dalam batok kepala. Ide abstrak di dalam otaknya kini memiliki wujud fisik di dunia nyata. Mulai dari detik itu, cara kerja manusia berubah. Inilah akar psikologis dari penemuan roda, mesin uap, hingga ponsel pintar yang sedang kita tatap saat ini. Semuanya berawal dari satu orang yang menolak untuk terus-menerus menerima rasa sakit di telapak tangannya.
Kembali ke masa kini, kita tentu tidak lagi duduk di tanah berdebu mencoba mengikat batu ke sebatang kayu. Tapi esensi psikologi dari sebuah inovasi tidak pernah berubah. Setiap hari, kita dihadapkan pada "batu" dan "kayu" versi modern. Ia bisa berupa masalah rumit di tempat kerja, tumpukan data yang membingungkan, atau sekadar mencari cara agar hidup kita berjalan sedikit lebih efisien. Terkadang, memang rasanya jauh lebih mudah untuk menyerah dan kembali mengikuti cara lama. Toh, otak kita masih sama pelitnya dengan leluhur kita. Tapi, mari kita ingat kembali si pembuat kapak pertama tadi. Inovasi tidak selalu membutuhkan gelar sarjana yang mentereng atau laboratorium triliunan rupiah. Ia sering kali hanya butuh observasi sederhana, keberanian untuk mencoba hal baru meski terlihat konyol, dan sedikit kesabaran ketika ikatan pertama kita terputus. Jadi, saat kita merasa buntu dan frustrasi hari ini, jangan buru-buru menyerah. Mungkin kita hanya butuh menarik napas, beristirahat sejenak, dan bersiap menyatukan kepingan ide yang akan mengubah dunia kita.